UJIAN AKHIR SEMESTER KEWIRAUSAHAAN

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus

Terrylina Arvinta Monoarfa, S.E., M.M.


Format soal: Studi Kasus (Individu)
Sejarah Giant, Raksasa Ritel Malaysia yang Tumbang di Indonesia


Kompas.com - 30/05/2021, 17:40 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - PT Hero Supermarket Tbk (HERO) akan menutup seluruh gerai Giant di Indonesia per akhir Juli 2021. Total gerai Giant di Tanah Air tersebar di 80 lokasi. Hingga kini, negosiasi terkait potensi pengalihan kepemilikan sejumlah gerai Giant kepada pihak ketiga masih berlangsung. Sebagian gerai nantinya akan diubah menjadi gerai IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket. Ketiga merek dagang tersebut selama ini juga dimiliki PT Hero Supermarket Tbk. "Seperti bisnis mumpuni lainnya, kami terus beradaptasi terhadap dinamika pasar dan tren pelanggan yang terus berubah, termasuk menurunnya popularitas format Hypermarket dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Sebuah tren yang juga terlihat di pasar global," jelas Presiden Direktur HERO Patrik Lindvall dalam keterangan resminya, Minggu (30/5/2021).


Salah satu alasan penutupan Giant, yakni sebagai upaya penggandaan jumlah lini bisnis seperti IKEA dan Guardian di tahun-tahun berikutnya. "Kami tetap meyakini bahwa sektor peralatan rumah tangga, kesehatan dan kecantikan, serta keperluan sehari-hari untuk kelas atas memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi," imbuh dia. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Dengan adanya peralihan bisnis ini, tentunya karyawan Giant turut terdampak. Namun, Patrik memastikan akan menyelesaikan permasalahan dengan semua karyawan yang bekerja di sejumlah gerai Giant tersebut. "Kami sangat berterima kasih kepada karyawan kami, pelanggan kami, serta mitra bisnis kami yang telah mendukung bisnis Giant selama ini. Kami akan memastikan bahwa proses komunikasi dengan semua karyawan kami yang terdampak oleh perubahan ini akan berlangsung dengan penuh empati dan rasa hormat," kata dia. "Kami juga akan memastikan proses yang adil bagi semua mitra bisnis kami. Keputusan besar seperti ini tidaklah mudah, tetapi kami percaya keputusan ini perlu diambil untuk kepentingan jangka panjang PT Hero Supermarket Tbk dan para karyawan kami yang berada di bawah naungan perusahaan," sambung Patrik. Sejarah Giant Giant sendiri sebenarnya berasal dari Malaysia.


Dikutip dari laman resminya, giant.com.my, jaringan supermarket ini pertamakali berdiri pada tahun 1944. Pendirinya adalah Teng Meng Chin. Ia membuka toko serba ada di kawasan Sentul Pasar, Malaysia. Lantaran animo berbelanja masyarakat saat itu cukup besar, pemiliknya memutuskan untuk memperluas gerai. Teng Meng Chin kemudian juga membuka cabang baru di Pusat Minimarket Teng di Bangsar pada tahun 1974. Perkembangan Giant semakin pesat membuat Teng Meng Chin terus menambah gerai-gerai baru di beberapa kota di Malaysia.


Di Indonesia, Giant menggandeng mitra lokal, yakni pengusaha nasional MS Kurnia yang memiliki PT Hero Supermarket Tbk. Hero membuka gerai Giant pertama di Villa Melati, Tangerang, pada tahun 2002. Gerainya di Tanah Air juga terus bertambah dengan cepat. Segmentasi Giant adalah para pelanggan yang menginginkan belanja dengan harga yang hemat, sehingga hal itu diyakini tidak mengganggu jalannya Hero Supermarket. Bahkan di tahun 2013, Hero melakukan strategi bisnis dengan membagi gerai Giant menjadi dua yakni Giant Ekstra dan Giant Ekspres.


Perubahan ini juga diikuti dengan perubahan konsep dan pembedaan yang jelas antara kedua format tersebut, di mana Giant Ekstra akan menjadi pemimpin pasar dalam harga murah dengan produk yang lengkap untuk kebutuhan bulanan konsumen. Sementara, Giant Ekpres akan menjadi pemimpin pasar dalam harga murah dengan pelayanan cepat untuk melayani kebutuhan mingguan konsumen. Di masa jayanya, Hero sudah membangun hingga 100 gerai Giant di berbagai kota di Indonesia dengan jumlah karyawan mencapai 14.000. Keuangan Hero Mengintip kondisi laporan keuangannya pada 2020 lalu, perusahaan tersebut tercatat mengalami kerugian sebesar Rp 1,2 triliun. Angka kerugian tersebut lebih parah jika dibandingkan pada 2019 lalu yang hanya sebesar Rp 33,18 miliar.


Selain itu, pendapatan perusahaan berkode emiten HERO itu juga mengalami penurunan pada 2020. Sepanjang 2020, total pendapatan perusahaan tersebut sebesar Rp 8,89 triliun. Jumlah pendapatan tersebut turun jika dibandingkan pada 2019. Pada 2019, jumlah pendapatan HERO sebanyak Rp 12,18 triliun. Beban pokok pendapatan perusahaan tersebut pada 2020 turun, menjadi Rp 8,89 triliun. Di 2019 lalu, beban pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp 12,18 triliun. Namun, beban usaha HERO pada 2020 mengalami kenaikan menjadi Rp 3,55 triliun. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan 2019 yang hanya sebesar Rp 3,48 triliun.


Senada dengan hal tersebut, beban keuangan HERO juga naik pada 2020 menjadi Rp 112 triliun. Padahal di tahun 2019 hanya sebesar Rp 4,9 miliar. Adapun jumlah liabilitas mengalami kenaikan dari Rp 2,39 triliun di akhir 2019, menjadi Rp 2,98 triliun di akhir 2020. Sementara itu, total aset HERO mengalami penurunan di 2020 menjadi Rp 4,83 triliun. Padahal, di akhir 2019 total aset emiten tersebut sebanyak Rp 6 triliun.


Penulis: Muhammad Idris


Soal:
Analisis faktor apa saja yang mempengaruhi menurunnya performa bisnis Giant!
Menurut pendapat Anda, jelaskan inovasi pada aspek apa saja yang mungkin dapat dikembangkan oleh pebisnis retail agar mampu bertahan dan menghadapi persaingan bisnis di masa pandemi Covid 19?
Gunakan rujukan buku atau artikel ilmiah untuk menganalisis dan menguatkan argumentasi Anda (minimal 5 referensi pada daftar pustaka)


1. Analisis faktor apa saja yang mempengaruhi menurunnya performa bisnis Giant!


Jawaban :


Banyak isu-isu yang bertebaran mengenai apa alasan sebenarnya yang menyebabkan gerai Giant tutup. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari sumber yang terpercaya (Aditya, 2021), alasan utama gerai Giant akan tutup sendiri adalah bahwa pihak perusahaan ingin memfokuskan bisnisnya pada brand lain yang dimiliki. Brand ini antara lain IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket, yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan Giant.


Dengan adanya statement ingin memfokuskan bisnisnya pada brand lain membuat kita bertanya-tanya apa alasan tergantikannya gerai Giant oleh brand lain, saya menduga alasannya karena masyarakat berpaling untuk belanja online. Mengapa saya bisa mengatakan seperti itu, karena seperti yang kita ketahui Indonesia sekarang sedang berada dalam keadaan pandemi Covid - 19 yang membuat masyarakat diharuskan untuk tidak keluar rumah, apabila tidak mempunyai kepentingan yang mendesak. Walaupun masih terdapat masyarakat yang tidak mematuhi peraturan tersebut tetapi banyak pula masyarakat yang mematuhi peraturan dan menahan diri untuk di rumah saja, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya mereka berbelanja online atau berbelanja secara tidak bertatap muka.


Hal yang semakin menguatkan argumen saya itu karena pandemi ini sudah berjalan lebih dari 1 tahun dan itu membuat sebagian orang sudah mulai nyaman atau terbiasa dengan keadaan tersebut, dan sudah menjadikan berbisnis online ini merupakan gaya hidup yang baru dan harus dijalani. Namun argumen tersebut dipatahkan oleh sumber yang terpercaya yang mengatakan (Aditya, 2021) gerai giant tumbang bukan karena bisnis online, meski cukup banyak isu berkembang bahwa penutupan awal (sejumlah enam gerai Giant) dikarenakan transaksi online, namun Aprindo selaku asosiasi bisnis terkait menyatakan hal ini tidak berhubungan. Total transaksi online yang terjadi saat ini masih di bawah 10%.


Dan dari informasi tersebut saya baru tahu bahwa bisnis online bukan alasan dari tutupnya gerai Giant ini, tetapi alasan lain yang membuat gerai Giant tutup yaitu banyaknya Indomaret atau toko yang lebih dekat dengan masyarakat. Setelah membaca informasi tersebut saya berpikir bahwa saya merasakan sendiri dampak dari pandemi ini membuat saya sebisa mungkin untuk berbelanja kehidupan sehari-hari di toko terdekat saja seperti Indomaret, karena di tempat saya tidak ada toko besar seperti Giant, dan dengan kondisi seperti ini tentunya membuat toko-toko besar seperti Giant merasa rugi, karena yang ada di pandangan saya yang namanya toko besar pasti berkumpul orang banyak dibandingkan toko kecil.


Satu hal yang pasti yang membuat segala performa bisnis menurun dari segi manapun yaitu karena adanya pandemi Covid - 19 ini membuat semua perekonomian turun, dan bisnis akan runtuh jika tidak dapat membuat Inovasi atau strategi yang dapat mempertahankan bisnisnya


2. Menurut pendapat Anda, jelaskan inovasi pada aspek apa saja yang mungkin dapat dikembangkan oleh pebisnis retail agar mampu bertahan dan menghadapi persaingan bisnis di masa pandemi Covid 19?


Jawaban :


Ritel berasal dari kata retail yang berarti eceran. Bisnis ritel merupakan suatu bisnis menjual produk dan jasa pelayanan yang telah diberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, atau pengguna akhir lainnya. Menurut Sopiah (2008) dalam Febyana (2012) aktivitas nilai tambah yang ada dalam bisnis ritel diantaranya meliputi assortment, holding inventory, dan providing service. Bisnis ritel di Indonesia dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu ritel tradisional dan ritel modern. Ritel modern pada dasarnya merupakan pengembangan dari ritel tradisional. Format ritel ini muncul dan berkembang seiring perkembangan perekonomian, teknologi, dan gaya hidup masyarakat yang menuntut kenyamanan lebih dalam berbelanja (Pandin, (2009) dalam Febyana (2012).


Perkembangan teknologi dewasa ini, membuat persaingan bisnis menjadi semakin ketat. Para peritel menggunakan berbagai macam strategi untuk membuat produknya agar dapat menarik minat konsumen. Salah satu strategi yang digunakan oleh peritel adalah strategi merek pribadi atau Private Label Brand. Private Label sebenarnya pengembangan dari konsep merek. PLBs merupakan produk yang mereknya didesain dan dikembangkan dengan menggunakan nama pengecer bersangkutan dan hanya dijual oleh perusahaan tersebut. Misalnya Carefour menjual produk makanan atau minuman dengan merek Carefour juga. Menurut Davies (1990) dalam Susanti (2012) Private Labels Brands /PLBs adalah: “any product with a retailer-owned name on it”. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa PLBs merupakan produk yang dibuat oleh perusahaan dengan nama perusahaan ritel yang memproduksinya.


Strategi Merek Private Label


Menurut Dick, Richard dan Koskinen (2000: 24) dalam Susanti (2012), penanaman merek pada produk private label dapat dikategorikan menjadi:


1. Store brands
Menggunakan nama peritel pada kemasan produk private label. Misal merek Tesco yang dimiliki peritel “Tesco”.


2. Store Sub-brands
Menggunakan nama merek yang berisikan dua nama, nama peritel dan nama produk. Misal Tesco Finest Range.


3. Umbrella brands atau Generic brands
Produk private labelyang diberi merek independen, tidak ada kaitan dengan nama peritel. Umbrella brand digunakan untuk produk dengan kategori yang berbeda. Misal Value Plusproduk PLBs dari Matahari supermarket.


4. Individual brands
Nama merek yang digunakan hanya untuk satu kategori produk. Produk yang dimiliki peritel tetapi dianggap sebagai merek individu, nama merek mungkin terlihat di bagian belakang, namun tidak terlalu mencolok.


5. Exclusive brands
Nama merek yang digunakan untuk satu kategori yang sama. Nama produk ini mempromosikan value added.


Setahun terakhir ini menjadi tahun yang berbeda dan sangat berat bagi kita semua. Tak hanya berdampak pada kesehatan, adanya virus Corona juga memberikan dampak pada banyak aspek kehidupan termasuk pada sektor bisnis. Banyak rintangan dan kesulitan yang harus dilalui oleh pelaku bisnis di tengah pandemi ini. Disisi lain, rintangan dan kesulitan yang dilewati tentunya dapat menjadi pelajaran dan ilmu baru yang dapat menciptakan peluang baru untuk mempertahankan bisnis di masa yang masih pandemi ini. (Paxel, 2021)


Berikut beberapa contoh inovasi bisnis yang bisa diterapkan untuk keberlangsungan bisnis yang saat ini sedang di jalani di tengah pandemi.


1. Inovasi Pada Produk
Dengan berubahnya kebutuhan masyarakat, dapat menjadi ide atau peluang baru bagi bisnis yang dijalani. Salah satunya dengan melakukan diferensiasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Yang menjalani bisnis fashion dapat menambah jenis produk misalnya masker dengan bonus 1 masker setiap pembelian 2 masker. Tak hanya menambahkan jenis produk dalam bisnis, inovasi produk lainnya juga dapat dilakukan bagi para pelaku bisnis kuliner dengan menyediakan jenis produk makanan beku atau frozen food yang saat ini menjadi makanan yang digemari oleh sebagian besar masyarakat karena kepraktisannya dan jangka waktu simpan yang lama.


2. Membuat Strategi Digital
Di era digital saat ini, berjualan secara online menjadi salah satu cara dalam meningkatkan penjualan dan mengembangkan bisnis yang di jalani. Dalam berjualan secara online tentunya juga diperlukan strategi guna dapat menghasilkan penjualan mulai dari menggunakan platform online seperti e-commerce, marketplace dan media sosial untuk menawarkan produk jualan. Dalam memilih platform online yang tepat dapat mulai ditentukan dari kebutuhan bisnis hingga target konsumen atau audiens pada bisnis. Selain itu, juga dapat manfaatkan berbagai platform Periklanan yang dapat disesuaikan pada kebutuhan bisnis dengan budget bisnis yang dapat ditentukan.


Dunia bisnis di era globalisasi, pemasaran produk baik barang maupun jasa dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Media sosial merupakan produk dari teknologi informasi memberikan manfaat optimal bagi pelaku usaha. Dengan media sosial pelaku usaha dapat memaparkan spesifikasi produk, kualitas, dan harga sehingga konsumen dapat lebih leluasa memilih barang yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuannya (Praditya, 2019; Purbohastuti, 2017; Rusdiono, 2019).


Para pakar menyetujui, bahwa dengan adanya media sosial sebagai salah satu media untuk memasarkan hasil produksi telah memberikan pengetahuan kepada para konsumen berkaitan dengan spesifikasi produk yang akan mereka (Rosmadi, 2021).


Hasil penelitian empiris yang dilakukan oleh Grandon & Pearson (2004), Orapin (2009), dan Kurniawan (2017) dapat disimpulkan, bahwa e-business atau ecommerce sangat berguna dan bermanfaat baik bagi produsen yang memiliki produk maupun konsumen yang membutuhkan produk dengan cepat, tepat, dan sesuai dengan yang diharapkans


3. Menciptakan Kenyamanan Pelanggan
Mempertahankan pelanggan yang sudah ada merupakan salah satu cara dalam mempertahakan bisnis yang dijalani di tengah pandemi ini. Ciptakan kenyamanan pelanggan dengan memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan pada toko bisnis. Apabila fokus berjualan secara online, banyak hal yang dapat di persiapkan mulai dari menyiapkan konten dengan memberikan informasi produk (baik foto dan deskripsi produk yang jelas), menyediakan cara pemesanan yang mudah, pilihan pembayaran yang beragam, sampai proses pengiriman yang cepat.


Dalam berjualan secara online, proses pengiriman menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan terutama bagi kita yang menjalani bisnis kuliner. Agar kondisi paket kita tetap terjaga keamananannya sampai ke tangan pelanggan, penting untuk selalu packing paket dengan aman sesuai jenis paket yang akan dikirim.


4. Up-to-date Dengan Tren yang Ada
Dengan terus memahami kebutuhan konsumen yang dinamis, memperhatikan dan mengikuti tren yang ada dapat menjadi ide bagi inovasi untuk bisnis kita agar dapat terus berkembang. Mulai dari memanfaatkan platform online yang sedang tren dengan membuat konten yang kreatif untuk media promosi gratis hingga mencari tau layanan-layanan baru yang dapat mendukung bisnis kita.


Adapun faktor –faktor yang mempengaruhi loyalitas pelanggan menurut (TEMA 19, 2021) adalah sebagai berikut:


1. Harga
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu barang atau jasa atau jumlah dari nilai uang yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut(Kotler and Armstrong, 2013:151).Terdapat beberapa indikator dalam harga yang diantaranya : keterjangkauan harga, daya saing harga, kesesuaian harga denga kualitas produk, kesesuaian harga dengan manfaat produk.


Strategi penentuan harga produk maupun jasa yang dilakukan perusahaan sangat berpengaruh pada keputusan konsumen. Menurut Mowen dan Minor dalam Bekti Setiawati (dikutip oleh Septhani, 2011) menyatakan bahwa harga adalah atribut paling penting yang dievaluasi oleh konsumen sehingga manajer perusahaan perlu bener-benar menyadari peran tersebut dalam menentukan sikap konsumen. Harga sebagai atribut dapat diartikan bahwa harga merupakan konsep keanekaragaman yang memiliki arti berbeda bagi konsumen tergantung karakteristik konsumen, situasi dan produk.


2. Kualitas Produk
Definisi kualitas produk menurut (Kotler, Philip dan Armstrong, 2014)adalah kemampuan sebuah produk dalam mendeskripsikan, yang meliputi keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk serta atribut lainnya dari suatu produk.Terdapat beberapa indikator dalam kualitas produk yaitu: kinerja, ciri-ciri produk, kesesuaian dengan spesifikasi, keandalan, daya tahan, daya tarik, kualitas yang dipersepsikan.


3. Kualitas Pelayanan
Fandy Tjiptono (2016:4) mendefinisikan bahwaPelayanan bisa dipandang sebagai sebuah sistem yang terdiri atas dua komponen utama, yaitu service operationsyang kerap kali tidak tampat atau tidak diketahui keberadaannya oleh pelanggan (back office atau backstage) dan service deliveryyang biasanya tampak (visible) atau diketahui pelanggan sering disebut pula front officeatau frontstage.Ada beberapa indikator yang termasuk ke dalam kualitas pelayanan, diantaranya:keandalan, berwujud, dayatanggap, jaminan, empati.


4. Lokasi
Lokasi adalah pendorong biaya dan pendapatan, maka lokasi sering kali memiliki kekuasaan untuk membuat (atau mematahkan) strategi bisnis perusahaan(Haizer dan Render, 2015:384). Terdapat beberapa indikator yang termasuk ke dalam faktor lokasi yaitu : akses, ekspansi, visibilitas, lalu lintas, lingkungan.


Faktor lainnya yang juga berpengaruh terhadap keputusan yang diambil konsumen untuk membeli suatu produk adalah faktor lokasi yang mudah dijangkau oleh konsumen dan dekat dengan pusat keramaian merupakan lokasi yang tepat untuk suatu usaha, termasuk usaha ritel. (Fauzih et al., 2020)


5. Promosi
Promosi adalah aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk pelanggan untuk membeli produk itu(Kotler, Philip dan Armstrong, 2014).Terdapat beberapa indikator yang masuk ke dalam faktor promosi diantaranya: periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, penjualan langsung.


Faktor berikutnya yang tidak kalah pentingnya adalah faktor promosi. Promosi pada PT. Giant Eksres merupakan sarana dimana Giant Ekspres berusaha untuk menginformasikan, membujuk dan mengingatkan konsumen baik secara langsung ataupun tidak langsung tentang suatu produk dan merk yang mereka jual.


Adapun bentuk promosi yang dilakukan Giant Ekspres yaitu in-store promotion, merupakan kegiatan promosi yang dilakukan di dalam toko dengan tujuan menarik minat konsumen terhadap suatu produk. In-store promotion diantaranya adalah promosi penjualan, display toko dan penjualan perorangan. In-store promotion dapat menjadi stimulus bagi konsumen untuk melakukan pembelian walaupun tidak direncanakan sebelumnya.


6. Display
Willian J. Schultz dalam (Buchari Alma, 2014:189)mengatakan Display merupakan usaha menarik perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang dan mendorong keinginan untuk membeli melalui daya tarik pengelihatan langsung (direct visual appeal). Terdapat beberapa indikator dalam displaydiantaranya: window display, interior display, exterior display.


7. Atmosfer Toko
Atmosfer toko merupakan karakteristik fisik toko yang biasa digunakan untuk mengembangkan, mencitrakan dan menarik pelanggan untuk berkunjung ke dalam toko(Berman & Evans, 2014:62). Terdapat beberapa indikator yang termasuk kedalam factor atmosfer toko diantaranya: kebersihan, musik, aroma, suhu, pencahyaan


Pemasaran secara online melalui media merupakan langkah tepat yang harus dilakukan oleh para pelaku usaha (Suswanto & Setiawati, 2020; Gu, Han, & Wang, 2020). Oleh karena itu strategi yang diterapkan oleh para pelaku usaha ini harus dilakukan secara optimal agar produk yang dihasilkan dapat diterima oleh masyarakat dengan memberikan keterangan yang jelas dan dapat dipercaya konsumen.


Dari sudut pandang pembeli, setiap alat pemasaran dirancang untuk memberikan manfaat bagi pelanggan. Robert Lauterborn berpendapat bahwa 4P berhubungan dengan 4C pelanggan yaitu :
Kebutuhan pelanggan (Customer needs and wants),
Biaya pelanggan (Cost to the customer),
Kemudahan (Convience)
Komunikasi (Communication).


DAFTAR PUSTAKA


Aditya, R. (2021). Giant Tutup: Waktu Penutupan, Penyebab dan Fakta Menarik. Suara.Com. https://today.line.me/id/v2/article/o5RPnP


Paxel. (2021). Tips Mempertahankan Bisnis di Tengah Pandemi. Paxel. https://paxel.co/id/news-and-promos/tips-mempertahankan-bisnis-di-tengah-pandemi


Rosmadi, M. L. N. (2021). Penerapan Strategi Bisnis di Masa Pandemi Covid-19 Jurnal IKRA-ITH Ekonomika Vol 4 No 1 Bulan Maret 2021. Jurnal IKRA-ITH Ekonomika, 4(1), 122–127.


Untung, D. S. (2015). Potensi Private Label Dalam Menarik Minat Konsumen Pada Bisnis Retail. 1.


Kotler, Philip dan Armstrong, G. (2014). Kotler & Armstrong Prinsip-Prinsip Manajemen, edisi 2014, Erlangga.


Haizer, Jay dan Render Barry, (2015), Manajemen Keberlangsungan dan Rantai Pasokan,edisi 11, Salemba Empat, Jakarta


Barry Berman dan Joel R. Evans, 2014. “Retail Management” dialih bahasakan oleh LinaSalim, 12th. Edition. Jakarta; Pearson


Febyana, Melsya, 2012, Gamabaran Umum Tentang Ritel, http://melsyafebyana.blogspot.com/2012/03/gamabaran-umum-tentang-ritel.html


Suswanto, P., & Setiawati, S. D. (2020). Strategi Komunikasi Pemasaran Shopee Dalam Membangun Positioning di Tengah Pandemi Covid-19 di Indonesia. Linimasa: Jurnal Ilmu Komunikasi, 3(2), 16-29.


Purbohastuti, A. W. (2017). Efektivitas Media Sosial Sebagai Media Promosi. Tirtayasa Ekonomika, 12(2), 212-231.


Rusdiono. (2019). Peran Media Sosial Sebagai Upaya Pemasaran Bisnis Online Shop Pada Online Shop Antler MakeUp @antler.makeup. Widya Cipta: Jurnal Sekretari dan Manajemen, 3(2), 195-202


Widyaningrum, P. W. (2016). Peran Media Sosial sebagai Strategi Pemasaran pada Sewa Kostum Meiyu Aiko Malang. Jurnal Al Tijarah, 2(2), 230-257.


Grandon, E., & Pearson, J. (2004). Electronic commerce adoption: an empirical study of small and medium US businesses. Information & Management, 42(1), 197-216.


Orapin, l. (2009). factor influencing internet shopping behaviour: a survey of consumers in Thailand. Journal of Fashion Marketing and Management, 13(4), 510-513


Kurniawan, P. (2017). Pemanfaatan Media Sosial Instagram Sebagai Komunikasi Pemasaran Modern Pada Batik Burneh. Jurnal Kompetensi, 11(2), 217-225

Comments

Popular posts from this blog

UJIAN TENGAH SEMESTER KEWIRAUSAHAAN

JANGAN nilai dari BUDAYA, Tapi ORANGNYA !

WIRAUSAHA MILENIAL KEREN - KAK RAIHAN