TUGAS LANDASAN ILMU PENDIDIKAN
Kesimpulan yang dapat saya ambil dari video yang berjudul “Evolution of Education 3500 BC – 2020 History of Education, Documentary video” yang dipublikasikan di youtube “Explain Like I’m Five” adalah kita bisa mengetahui perjalanan pendidikan yang dimulai dari peradaban kuno sampai yang sekarang kita ketahui masuk ke era modern. Kita dapat menyaksikan bagaimana proses atau perkembangan pendidikan seperti salah satunya dalam huruf, yang tadinya berupa aksara berkembang menjadi sebuah huruf latin.
Saya mencoba melihat dari sisi kemanusiaan, dapat saya ambil bahwa betapa pentingnya pendidikan, jika kita tidak berpendidikan kita akan merasakan betapa kejamnya dunia. Disini juga setiap negara mempunyai sistem pendidikan yang berbeda-beda, dan berlomba-lomba agar sistem pendidikannya menjadi yang terbaik. Maka dari itu, jika kita tidak mempunyai pendidikan, bagaimana kita bisa berlomba dengan jutaan orang di luar sana.
Yang menarik disini, saya melihat bahwa para ahli tidak akan pernah merasa puas dengan hasil yang diberikan seperti huruf, kurikulum dan hal lainnya yang menyangkut dengan pendidikan, mereka tidak akan berhenti dan akan selalu mengikuti perkembangan zaman untuk disesuaikan dengan sistem pendidikan. Kita sudah tahu, mereka sangat berkorban untuk kehidupan selanjutnya, seharusnya kita sebagai generasi penerus bangsa itu perlu mempelajari pendidikan secara mendalam agar kita bisa meneruskan para pendahulu dalam bidang pendidikan.
Tapi, tidak semua dari sistem pendidikan yang berubah menjadi lebih modern membawa dampak yang positif. Ada yang membawa dampak negatif, seperti yang dahulunya saat mengerjakan tugas kita harus berfikir keras, sekarang bisa menyelesaikannya hanya berpatokan dengan Smartphone dan media sosial lainnya. Itu bukan salah dari sistem canggihnya teknologi yang dapat menyelesaikan apapun tetapi dari pengguna itu sendiri.
Pendidikan itu akan selalu berubah, tinggal kita sebagai pemeran utamanya harus bisa mengelolanya dengan baik, jangan hanya mendengarkan dari guru saja, tetapi harus dapat benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jelasnya kita dapat membaca tulisan dibawah ini yang sudah saya rangkum, bagaimana sebenarnya perubahan pendidikan yang terus berkembang ini.
Mulai sekitar 3500 SM, berbagai sistem penulisan berkembang dalam peradaban kuno di seluruh dunia. Di Mesir, hieroglif yang berkembang sepenuhnya digunakan di Abydos sejak 3400 SM. Alfabet tertua yang diketahui dikembangkan di Mesir tengah sekitar 2000 SM, dari Prototipe Hieroglif.
Sistem Fenisia juga diadaptasi ke dalam aksara Aram, dari mana aksara Ibrani dan Arab diturunkan. Naskah ini didaptasi oleh orang Yunani. Varian dari alfabet Yunani awal memunculkan alfabet Etruria, dan keturunannya sendiri, seperti alfabet latin.
Di Amerika kolonial pendidikan mencakup banyak jenis pembelajaran, dengan sedikit penekanan ditempatkan pada sekolah formal. Orang tua lebih terlibat dalam pembelajaran anak-anak mereka daripada pemerintah, dan sekolah menerima dukungan dari berbagai tempat tetapi tidak dapat diakses oleh semua.
Dari beberapa aksara pra-Colombus di Mesoamerika, yang tampaknya paling berkembang, dan yang paling banyak diuraikan, adalah aksara maya. Prasasti paling awal yang dapat diidentifikasi tanggal maya ke abad ke-3 SM, dan tulisan terus digunakan sampai tidak lama setelah kedatangan bahasa Spanyol Conquistadores di abad ke-16
Asthurbanipal (685 – c. 627 SM), seorang raja dari kekaisaran Neo-Asyur, bangga dengan pendidikan juru tulisnya. Selama masa pemerintahannya ia mengumpulkan teks-teks paku dari seluruh Mesopotamia, dan terutama Babilonia, di perpustakaan di Niniwe, perpustakaan pertama yang terorganisir secara sistemastis di timur tengah kuno, yang sebagian masih bertahan hingga saat ini.
Di Israel kuno, Taurat (teks dasar agama) mencakup perintah untuk membaca, belajar, mengajar dan menulis taurat, sehingga membutuhkan literasi dan studi. Pada 64 M, imam besar membuka sekolah. Penekanan ditempatkan pada pengembangan keterampilan memori yang baik di samping pengulangan pemahaman lisan.
Di India kuno, pendidikan terutama diberikan melalui sistem pendidikan Weda dan Buddha. Sanskrit adalah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sistem pendidikan Veda. Pali adalah bahasa yang digunakan dalam sistem pendidikan Buddha. Dalam sistem Weda, seorang anak memulai pendidikannya pada usia 5 tahun sedangkan dalam sistem Buddhis anak memulai pendidikannya pada usia 8 tahun.
Menurut catatan legendaris, penguasa Yao dan Shun (ca. Abad 24-23 SM) mendirikan sekolah pertama. Sistem pendidikan pertama diciptakan pada dinasti Xia (2076-1600 SM). Selama dinasti Xia, pemerintah membangun sekolah untuk pendidikan bangsawan tentang ritual, sastra, dan penahan (penting untuk zaman kuno bangsawan Cina).
Jadi sistem 9 peringkat adalah sistem nominasi pegawai negeri selama 3 kerajaan (220-280 M) dan dinasti Utara dan Selatan (420-589 M) di China. Secara teoritis, otoritas pemerintah daerah diberi tugas untuk memilih kandidat berbakat, kemudian mengkategorikannya ke dalam 9 kelas tergantung pada kemampuannya.
Di negara kota Yunani kuno, sebagian besar pendidikan bersifat swasta, kecuali di Sparta. Misalnya, di Athena, selama abad ke-5 dan ke-4 SM, selain dari 2 tahun pelatihan militer, negara bagian memainkan peran kecil dalam sekolah. Siapapun dapat membuka sekolah dan menentukan kurikulum. Para orang tua dapat memilih sekolah yang menawarkan mata pelajaran yang mereka inginkan untuk dipelajari oleh anak-anak mereka, dengan biaya bulanan yang mereka mampu.
Sekitar 350 SM, sudah umum bagi anak-anak di sekolah-sekolah di Athena untuk juga mempelajari berbagai seni seperti menggambar melukis, dan memahat. Siswa terkaya melanjutkan pendidikan mereka dengan belajar bersama para sofis, dari mereka dapat mempelajari mata pelajaran seperti retorika, matematika, geografi, sejarah alam, politik, dan logika.
Selama awal abad pertengahan, biara biara Gereja Katolik Roma adalah pusat pendidikan dan literasi. Melestarikan pilihan gereja dari pembelajaran bahasa Latin dan memelihara seni menulis sebelum pendirian formal mereka, banyak Universitas abad pertengahan dijalankan selama ratusan tahun sebagai Sekolah monastik Kristen (Scholae Monasticae), dimana para biarawan Mengajar kelas, dan kemudian sebagai sekolah Katedral.
Lembaga abad pertengahan pertama yang umumnya dianggap sebagai Universitas didirikan di Italia Perancis dan Inggris pada akhir abad ke-11 dan ke-12 untuk mempelajari seni, hukum, kedokteran, dan teologi. Universitas-universitas ini berkembang dari sekolah Katedral Kristen dan sekolah biara yang jauh lebih tua.
Siswa di abad ke-12 sangat bangga dengan Master yang mereka pelajari mereka yang belajar di bawah Robert dari Melun disebut Meludinenses. orang-orang ini tidak belajar di Melun, tetapi di Paris, dan diberi nama kelompok tuannya. Warga di abad ke-12 menjadi sangat tertarik untuk mempelajari keterampilan yang langka dan sulit yang dapat diberikan oleh para ahli.
Selama abad ke-6 dan ke-7, akademi Gundishapur, yang awalnya merupakan pusat intelektual kerajaan Sasaniyah dan kemudian menjadi pusat pembelajaran muslim, menawarkan pelatihan di bidang kedokteran, filsafat, Teologi, dan sains. itu fakultas berpengalaman tidak hanya dalam tradisi Zoroastrian dan Persia, tetapi juga dalam pembelajaran Yunani dan India.
Sistem pendidikan modern di Eropa berasal dari sekolah-sekolah pada abad pertengahan banyak Universitas paling awal, seperti universitas Paris yang didirikan pada tahun 1160 memiliki basis Kristen. Selain itu terdapat sejumlah Universitas sekuler, seperti Universitas Bologna yang didirikan pada tahun 1088. Pendidikan gratis untuk kaum miskin secara resmi diamanatkan oleh Gereja.
Di Eropa tengah, ilmuwan dan pendidik abad ke-17 John Amos Comenius mengumumkan sistem pendidikan universal yang telah di reformasi yang banyak digunakan di Eropa titik pertumbuhannya mengakibatkan meningkatnya minat pemerintah terhadap pendidikan. Pada 1761 misalnya, Ivan Betskoy diangkat oleh ke Tsarina Rusia, Catherina II, sebagai penasihat pendidikan.
Pada akhir abad ke-19, sebagian besar wilayah barat, tengah dan sebagian Eropa Timur mulai memberikan pendidikan dasar dalam membaca, menulis, dan aritmatika, sebagian karena politisi percaya bahwa pendidikan diperlukan untuk perilaku politik yang teratur. Dengan semakin banyaknya orang yang melek huruf, mereka menyadari bahwa sebagian besar pendidikan menengah hanya terbuka bagi mereka yang mampu.
Saat ini, ada beberapa bentuk pendidikan wajib di sebagian besar negara titik karena pertumbuhan populasi dan perkembangan wajib belajar, UNESCO telah menghitung bahwa dalam 30 tahun kedepan lebih banyak orang yang akan menerima pendidikan formal daripada sepanjang sejarah manusia sejauh ini. Buta huruf dan persentasi populasi yang tidak bersekolah telah menurun dalam beberapa dekade terakhir.
20 tahun yang lalu, pendidikan didasarkan pada buku dan kuliah, sekarang iPad dan situs web. Di masa lalu, siswa harus menghabiskan berjam-jam di perpustakaan mencari mencari buku untuk suatu proyek atau penilaian. Satu perbedaan utama yang telah berubah melalui kurikulum di sekolah adalah mengajarkan keterampilan siswa bukan konten.
Perlu kita tekankan lagi, bahwa berubahnya sistem pendidikan itu sudah pasti dinilai dengan ketelitian yang luar biasa oleh ahlinya untuk menghasilkan pendidikan yang baik dari sebelumnya. Maka dari itu, kita sebagai pemeran utama terutama murid harus pintar dan berperan dalam pendidikan.
Saya mencoba melihat dari sisi kemanusiaan, dapat saya ambil bahwa betapa pentingnya pendidikan, jika kita tidak berpendidikan kita akan merasakan betapa kejamnya dunia. Disini juga setiap negara mempunyai sistem pendidikan yang berbeda-beda, dan berlomba-lomba agar sistem pendidikannya menjadi yang terbaik. Maka dari itu, jika kita tidak mempunyai pendidikan, bagaimana kita bisa berlomba dengan jutaan orang di luar sana.
Yang menarik disini, saya melihat bahwa para ahli tidak akan pernah merasa puas dengan hasil yang diberikan seperti huruf, kurikulum dan hal lainnya yang menyangkut dengan pendidikan, mereka tidak akan berhenti dan akan selalu mengikuti perkembangan zaman untuk disesuaikan dengan sistem pendidikan. Kita sudah tahu, mereka sangat berkorban untuk kehidupan selanjutnya, seharusnya kita sebagai generasi penerus bangsa itu perlu mempelajari pendidikan secara mendalam agar kita bisa meneruskan para pendahulu dalam bidang pendidikan.
Tapi, tidak semua dari sistem pendidikan yang berubah menjadi lebih modern membawa dampak yang positif. Ada yang membawa dampak negatif, seperti yang dahulunya saat mengerjakan tugas kita harus berfikir keras, sekarang bisa menyelesaikannya hanya berpatokan dengan Smartphone dan media sosial lainnya. Itu bukan salah dari sistem canggihnya teknologi yang dapat menyelesaikan apapun tetapi dari pengguna itu sendiri.
Pendidikan itu akan selalu berubah, tinggal kita sebagai pemeran utamanya harus bisa mengelolanya dengan baik, jangan hanya mendengarkan dari guru saja, tetapi harus dapat benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jelasnya kita dapat membaca tulisan dibawah ini yang sudah saya rangkum, bagaimana sebenarnya perubahan pendidikan yang terus berkembang ini.
Mulai sekitar 3500 SM, berbagai sistem penulisan berkembang dalam peradaban kuno di seluruh dunia. Di Mesir, hieroglif yang berkembang sepenuhnya digunakan di Abydos sejak 3400 SM. Alfabet tertua yang diketahui dikembangkan di Mesir tengah sekitar 2000 SM, dari Prototipe Hieroglif.
Sistem Fenisia juga diadaptasi ke dalam aksara Aram, dari mana aksara Ibrani dan Arab diturunkan. Naskah ini didaptasi oleh orang Yunani. Varian dari alfabet Yunani awal memunculkan alfabet Etruria, dan keturunannya sendiri, seperti alfabet latin.
Di Amerika kolonial pendidikan mencakup banyak jenis pembelajaran, dengan sedikit penekanan ditempatkan pada sekolah formal. Orang tua lebih terlibat dalam pembelajaran anak-anak mereka daripada pemerintah, dan sekolah menerima dukungan dari berbagai tempat tetapi tidak dapat diakses oleh semua.
Dari beberapa aksara pra-Colombus di Mesoamerika, yang tampaknya paling berkembang, dan yang paling banyak diuraikan, adalah aksara maya. Prasasti paling awal yang dapat diidentifikasi tanggal maya ke abad ke-3 SM, dan tulisan terus digunakan sampai tidak lama setelah kedatangan bahasa Spanyol Conquistadores di abad ke-16
Asthurbanipal (685 – c. 627 SM), seorang raja dari kekaisaran Neo-Asyur, bangga dengan pendidikan juru tulisnya. Selama masa pemerintahannya ia mengumpulkan teks-teks paku dari seluruh Mesopotamia, dan terutama Babilonia, di perpustakaan di Niniwe, perpustakaan pertama yang terorganisir secara sistemastis di timur tengah kuno, yang sebagian masih bertahan hingga saat ini.
Di Israel kuno, Taurat (teks dasar agama) mencakup perintah untuk membaca, belajar, mengajar dan menulis taurat, sehingga membutuhkan literasi dan studi. Pada 64 M, imam besar membuka sekolah. Penekanan ditempatkan pada pengembangan keterampilan memori yang baik di samping pengulangan pemahaman lisan.
Di India kuno, pendidikan terutama diberikan melalui sistem pendidikan Weda dan Buddha. Sanskrit adalah bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sistem pendidikan Veda. Pali adalah bahasa yang digunakan dalam sistem pendidikan Buddha. Dalam sistem Weda, seorang anak memulai pendidikannya pada usia 5 tahun sedangkan dalam sistem Buddhis anak memulai pendidikannya pada usia 8 tahun.
Menurut catatan legendaris, penguasa Yao dan Shun (ca. Abad 24-23 SM) mendirikan sekolah pertama. Sistem pendidikan pertama diciptakan pada dinasti Xia (2076-1600 SM). Selama dinasti Xia, pemerintah membangun sekolah untuk pendidikan bangsawan tentang ritual, sastra, dan penahan (penting untuk zaman kuno bangsawan Cina).
Jadi sistem 9 peringkat adalah sistem nominasi pegawai negeri selama 3 kerajaan (220-280 M) dan dinasti Utara dan Selatan (420-589 M) di China. Secara teoritis, otoritas pemerintah daerah diberi tugas untuk memilih kandidat berbakat, kemudian mengkategorikannya ke dalam 9 kelas tergantung pada kemampuannya.
Di negara kota Yunani kuno, sebagian besar pendidikan bersifat swasta, kecuali di Sparta. Misalnya, di Athena, selama abad ke-5 dan ke-4 SM, selain dari 2 tahun pelatihan militer, negara bagian memainkan peran kecil dalam sekolah. Siapapun dapat membuka sekolah dan menentukan kurikulum. Para orang tua dapat memilih sekolah yang menawarkan mata pelajaran yang mereka inginkan untuk dipelajari oleh anak-anak mereka, dengan biaya bulanan yang mereka mampu.
Sekitar 350 SM, sudah umum bagi anak-anak di sekolah-sekolah di Athena untuk juga mempelajari berbagai seni seperti menggambar melukis, dan memahat. Siswa terkaya melanjutkan pendidikan mereka dengan belajar bersama para sofis, dari mereka dapat mempelajari mata pelajaran seperti retorika, matematika, geografi, sejarah alam, politik, dan logika.
Selama awal abad pertengahan, biara biara Gereja Katolik Roma adalah pusat pendidikan dan literasi. Melestarikan pilihan gereja dari pembelajaran bahasa Latin dan memelihara seni menulis sebelum pendirian formal mereka, banyak Universitas abad pertengahan dijalankan selama ratusan tahun sebagai Sekolah monastik Kristen (Scholae Monasticae), dimana para biarawan Mengajar kelas, dan kemudian sebagai sekolah Katedral.
Lembaga abad pertengahan pertama yang umumnya dianggap sebagai Universitas didirikan di Italia Perancis dan Inggris pada akhir abad ke-11 dan ke-12 untuk mempelajari seni, hukum, kedokteran, dan teologi. Universitas-universitas ini berkembang dari sekolah Katedral Kristen dan sekolah biara yang jauh lebih tua.
Siswa di abad ke-12 sangat bangga dengan Master yang mereka pelajari mereka yang belajar di bawah Robert dari Melun disebut Meludinenses. orang-orang ini tidak belajar di Melun, tetapi di Paris, dan diberi nama kelompok tuannya. Warga di abad ke-12 menjadi sangat tertarik untuk mempelajari keterampilan yang langka dan sulit yang dapat diberikan oleh para ahli.
Selama abad ke-6 dan ke-7, akademi Gundishapur, yang awalnya merupakan pusat intelektual kerajaan Sasaniyah dan kemudian menjadi pusat pembelajaran muslim, menawarkan pelatihan di bidang kedokteran, filsafat, Teologi, dan sains. itu fakultas berpengalaman tidak hanya dalam tradisi Zoroastrian dan Persia, tetapi juga dalam pembelajaran Yunani dan India.
Sistem pendidikan modern di Eropa berasal dari sekolah-sekolah pada abad pertengahan banyak Universitas paling awal, seperti universitas Paris yang didirikan pada tahun 1160 memiliki basis Kristen. Selain itu terdapat sejumlah Universitas sekuler, seperti Universitas Bologna yang didirikan pada tahun 1088. Pendidikan gratis untuk kaum miskin secara resmi diamanatkan oleh Gereja.
Di Eropa tengah, ilmuwan dan pendidik abad ke-17 John Amos Comenius mengumumkan sistem pendidikan universal yang telah di reformasi yang banyak digunakan di Eropa titik pertumbuhannya mengakibatkan meningkatnya minat pemerintah terhadap pendidikan. Pada 1761 misalnya, Ivan Betskoy diangkat oleh ke Tsarina Rusia, Catherina II, sebagai penasihat pendidikan.
Pada akhir abad ke-19, sebagian besar wilayah barat, tengah dan sebagian Eropa Timur mulai memberikan pendidikan dasar dalam membaca, menulis, dan aritmatika, sebagian karena politisi percaya bahwa pendidikan diperlukan untuk perilaku politik yang teratur. Dengan semakin banyaknya orang yang melek huruf, mereka menyadari bahwa sebagian besar pendidikan menengah hanya terbuka bagi mereka yang mampu.
Saat ini, ada beberapa bentuk pendidikan wajib di sebagian besar negara titik karena pertumbuhan populasi dan perkembangan wajib belajar, UNESCO telah menghitung bahwa dalam 30 tahun kedepan lebih banyak orang yang akan menerima pendidikan formal daripada sepanjang sejarah manusia sejauh ini. Buta huruf dan persentasi populasi yang tidak bersekolah telah menurun dalam beberapa dekade terakhir.
20 tahun yang lalu, pendidikan didasarkan pada buku dan kuliah, sekarang iPad dan situs web. Di masa lalu, siswa harus menghabiskan berjam-jam di perpustakaan mencari mencari buku untuk suatu proyek atau penilaian. Satu perbedaan utama yang telah berubah melalui kurikulum di sekolah adalah mengajarkan keterampilan siswa bukan konten.
Perlu kita tekankan lagi, bahwa berubahnya sistem pendidikan itu sudah pasti dinilai dengan ketelitian yang luar biasa oleh ahlinya untuk menghasilkan pendidikan yang baik dari sebelumnya. Maka dari itu, kita sebagai pemeran utama terutama murid harus pintar dan berperan dalam pendidikan.
Comments
Post a Comment