SEORANG AKADEMISI SEKALIGUS PRAKTISI KEWIRAUSAHAAN

1. Apa tema utama dari artikel tersebut?
Jawab : Tema pidato ini diangkat atas dasar Kegelisahan intelektual sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi kewirausahaan terhadap implementasi pendidikan kewirausahaan di tanah air.


2. Apakah terdapat dukungan teori dari tema utama yang dibahas?


Jawab : ​Dalam tema yang dibahas terdapat dukungan tersendiri yaitu Prof. Dr. Dedi Purwana ES, M.Bus sendiri selain sebagai seorang akademisi tetapi beliau juga praktisi kewirausahaan yang membantu mengembangkan tema tersebut, dan ada juga dukungan teori lainnya seperti platform baru dalam dunia bisnis, wirausaha-wirausaha sukses berbasis teknologi digital di era disrupsi, survei yang dilakukan oleh ​Global Entrepreneurship Monitor (GEM) tahun 2018, universitas cenderung lebih konservatif dan menolak pendekatan baru, beragam tantangan dalam menghadapi pengembangan pendidikan kewirausahaan, model pendidikan kewirausahaan (​Entrepreneurial Education Model) yang dikembangkan oleh Van Vuureen (1999), pendidikan kewirausahaan menurut Linan (2004), model pendidikan kewirausahaan yang dikembangkan oleh Pretorius dan Ras (2007), model pendidikan kewirausahaan yang komprehensif dikembangkan oleh ​The Quality Assurance Agency for Higher Education (2012), mata kuliah pendidikan bisnis, Universitas Negeri Jakarta yang pada tahun 2016 mengembangkan model pendidikan kewirausahaan berbasis karakter.


3. Bagaimana kualitas referensi/ daftar pustaka pada artikel tersebut?


Jawab : Dalam pidato tersebut terdapat referensi atau daftar pustaka, yang menurut saya jika ditanyakan kualitas, itu sudah pasti terjamin mulai dari tulisannya, sumbernya sampai kebenarannya. Karena apa? yaitu sudah diterbitkan, karena tidak mungkin suatu karya ilmiah diterbitkan jika tidak bagus tentu dari beberapa pertimbangan. Tetapi mungkin karena saya kurang mengenal dan belum membaca-nya berulang, jadi saya masih harus memahami lebih dalam lagi.


4. Kesimpulan akhir yang anda peroleh dari artikel tersebut?


Jawab : Saya menarik kesimpulan bahwa pidato ini disampaikan oleh Prof. Dr. Dedi Purwana ES, M.Bus sebagai disahkannya beliau menjadi guru besar bidang ilmu pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Didalam pidato yang berjudul Pendidikan Kewirausahaan Perguruan Tinggi Berbasis Karakter di Era Disrupsi ​ini terdapat beberapa kesimpulan yang dapat saya tarik dan pelajari lebih dalam lagi mengenai pendidikan kewirausahahaan, saya dapat mengetahui betapa pentingnya teknologi yang harus sudah dapat kita pelajari, dan ada berbagai macam model yang bisa kita terapkan dalam kewirausahaan. Semua itu saya jelaskan kembali secara detail tetapi singkat.


Revolusi industri 4.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan masyakat. Revolusi industri 4.0 merupakan kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis, yang mengubah cara hidup kerja manusia secara fundamental. Kondisi ini melahirkan platform baru dalam dunia bisnis, semisal ​sharing economy, on demand economy, blockchain , ​digital market place ​ dan ​e-commerce. Perubahan tata kelola bisnis melahirkan wirausaha-wirausaha sukses berbasis teknologi digital di era disrupsi ini. Sosok-sosok ​seperti Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan Jack Ma adalah contoh wirausaha sukses di bidangnya, ​Indonesia pun telah memiliki sejumlah wirausaha digital, seperti: Andrew Darwis (Pendiri Kaskus), William Tanuwijaya (Pendiri Tokopedia), Nadiem Makarim (Pendiri GO-JEK), dan sebagainya. Survei yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM) tahun 2018, mengilustrasikan kondisi kewirausahaan di Indonesia.


Hasil survei GEM menunjukkan dua indikator lain; yaitu entrepreneurial education at school dan ​post-school stage pada ​entrepreneurial framework conditions menempatkan Indonesia di urutan ke-2 dan 3 dari 54 negara yang disurvei.


Pendidikan kewirausahaan membekali mahasiswa tentang pengetahuan berwirausaha dalam bentuk ​startup bisnis (Keogh dan Galloway, 2004). Universitas cenderung lebih konservatif dan menolak pendekatan baru. Di Indonesia sendiri, pendidikan kewirausahaan pada perguruan tinggi terbilang relatif baru dikenalkan tahun 1990-an. Jumlah perguruan tinggi di kota-kota besar yang menawarkan sedikitnya satu kelas dalam kewirausahaan meningkat setiap tahun.


Pengembangan pendidikan kewirausahaan menghadapi beragam tantangan sebagai berikut: Pertama, tenaga pendidik baik guru maupun dosen tidak memiliki kompetensi dan pengalaman sebagai​entrepreneur sehingga konsep yang diajarkan terlalu fokus pada bagaimana merintis dan mengelola usaha–aspek kognitif. Kedua, pendidikan kewirausahaan tidak diajarkan secara integratif dan tematik. Ketiga, pimpinan satuan pendidikan tidak selalu memberikan ruang gerak bagi suburnya benih-benih kewirausahaan. ​Keempat, pendidikan kewirausahaan saat ini belum mampu dijadikan landasan bagi penguatan ketrampilan hidup (life skills) bagi anak. Kelima, pada jenjang perguruan tinggi masih minim jumlah perusahaan yang mau bermitra dengan lembaga pendidikan tinggi untuk mencetak wirausaha baru melalui pendirian inkubator bisnis. Keenam, pembelajaran kewirausahaan harus diperkaya dengan beragam metode pembelajaran disesuaikan tuntutan era disrupsi.


Kewirausahaan merupakan serangkaian perilaku, keterampilan dan sikap yang ditunjukkan oleh seseorang. Melalui pendidikan kewirausahaan maka keterampilan dan sikap berwirausaha yang dimiliki oleh masing-masing individu selanjutnya diintegrasikan melalui proses sehingga membentuk perilaku. Van Vuureen (1999) mengembangkan model pendidikan kewirausahaan (​Entrepreneurial Education Model) berbasis kinerja (entrepreneurial performance) dengan formula E/P = [ aM (bE/S x cB/S)]. Model tersebut menjelaskan bahwa ​Entrepreneurial Performance.


Menurut Linan (2004), pendidikan kewirausahaan dibedakan menjadi empat jenis. Pertama, pendidikan kesadaran berwirausaha (entrepreneurial awareness education) merupakan pendidikan yang bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang kewirausahaan dan mempengaruhi sikap yang akan menimbulkan minat. ​Kedua, pendidikan yang bertujuan untuk mendorong seseorang agar mampu mendirikan sebuah bisnis (education for start-up). Kategori ​ketiga adalah education for entrepreneurial dynamism merupakan pendidikan yang diberikan kepada orang-orang yang telah menjalankan suatu bisnis namun ingin meningkatkan perilaku usahanya setelah melalui fase awal pendirian bisnis. ​Keempat, pendidikan lanjutan bagi wirausahawan (continuing education for entrepreneurs) menggambarkan sebuah program pembelajaran sepanjang masa yang dimaksudkan bagi wirausahawan yang berpengalaman.


Pretorius dan Ras (2007) mengembangkan model pendidikan kewirausahaan yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di negara berkembang, yaitu Afrika Selatan. Model tersebut dikembangkan dengan menggunakan beberapa dimensi yaitu:
Tema sukses kewirausahaan;
Pengetahuan dan keterampilan bisnis;
Penggunaan rencanabisnis;
Pendekatan pembelajaran yang digunakan diantaranya adalah menentukan tujuan pembelajaran pemecahan masalah, diskusi, simulasi, evaluasi, studi kasus, kerja kelompok; dan
Fasilitator berperan dalam mengintegrasikan beberapa elemen di atas.
Pendidikan bisnis (​entreprise education) bertujuan untuk menghasilkan lulusan dengan pola pikir dan ketrampilan untuk tampil dengan ide-ide baru dalam menanggapi kebutuhan yang telah diidentifikasi dan kemampuan peserta didik untuk menerapkannya sebagai seorang karyawan di perusahaan.


Valerio, Parton and Robb (2014) membagi pendidikan kewirausahan ke dalam 2 jenis yaitu; program pendidikan dan pelatihan kewirausahaan ​entrepreneurship education and training. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2016 mengembangkan model pendidikan kewirausahaan berbasis karakter yang sesuai dengan kondisi UNJ. Pendidikan kewirausahaan yang dikemas melalui kurikulum berupa mata kuliah Kewirausahaan dengan bobot 3 SKS diwajibkan bagi seluruh mahasiswa.


Dengan memperhatikan beberapa aspek yang diadaptasi dari Clark (2004), kampus harus membangun;
Kepemimpinan yang kuat (steering core) pada semua aras organisasi​,
Pengembangan jejaring kerjasama (expanded developmental pheripery) dengan beragam pengampu kepentingan​,
Melakukan diversifikasi sumber pendanaan universitas (diversified funding base)​,
Penguatan bisnis inti berbasis akademik (stimulated academic heartland), ​ dan
Internalisasi budaya kewirausahaan (​integrated entrepreneurial culture).

Comments

Popular posts from this blog

UJIAN TENGAH SEMESTER KEWIRAUSAHAAN

JANGAN nilai dari BUDAYA, Tapi ORANGNYA !

WIRAUSAHA MILENIAL KEREN - KAK RAIHAN