Kuliah di luar negeri semasa COVID-19 [Australia]
Jadi, analisis yang dapat saya ambil setelah menonton video berjudul “Kuliah di luar negeri semasa COVID-19 [Australia]” dalam youtube Bapak “Dedi Purwana Channel” adalah mengenai pengalaman seorang mahasiswa yang bernama kak Ando yang akan bercerita bagaimana akhirnya bisa kuliah di Universitas Of Melbourne, disini kak Ando juga memberi kesan dan pesan terhadap kampusnya juga kepada penonton yang melihat video ini.
Sebelumnya saya ingin menyampaikan ketidaknyamanan karena saat saya menonton video ini ada gangguan yang berasal dari video tersebut seperti suara angin, burung, juga suara yang terlalu kecil saat narasumber menjelaskan, tetapi itu terbayar semua oleh cerita kak Ando yang memotivasi saya untuk tetap semangat menjalani kuliah walaupun secara PJJ atau daring ini. Disini saya merangkum pengalaman dari kak Ando selama PJJ di Universitas Of Melbourne.
Kesan pertama kak Ando ketika tinggal di Melbourne adalah merasa terkesan karena tinggal di negara maju, fasilitas yang didapatkan lebih baik daripada di Indonesia, sistem transportasi yang lebih lancar untuk diakses, cuaca yang beranekaragam yaitu ada 4 musim dibandingkan dengan di Indonesia yang hanya ada 2 musim. Tinggal disana selama 8 bulan dari bulan februari 2020 sampai sekarang bulan oktober, terasa sekali banyak hal yang dapat dipelajari salah satunya yaitu bagaimana cara kak Ando bisa beradaptasi, kak Ando tinggal cukup ditengah kota yaitu di CBD-nya Melbourne tidak jauh dari kampusnya, jadi masih hampir sama seperti di Jakarta namun di CBD lebih sepi. Tapi jika ada orang Asia kesana yaitu ketempat kak Ando pasti akan syok karena penggunaan bahasanya, tapi mau tidak mau harus beradaptasi karena ada kehidupan yang harus dijalani seperti kehidupan sehari-hari, kuliah dan banyak hal lainnya. Juga cuaca atau weather harus disesuaikan, harus sesering mungkin cek situasi bagaimana keadaan cuaca hari ini seperti mengecek di aplikasi agar tersesuaikan dalam kehidupan sehari-hari, jika kostum yang digunakan salah itu akan mempengaruhi aktivitas menjalankan kegiatan, begitu juga untuk makan banyak sekali yang harus diadaptasi.
Adaptasi yang dilakukan dikelas pertama kali yaitu ada orientasi kampus, bertemu dengan teman-teman yang se-Negara se-Fakultas dari Asia, Eropa bahkan Amerika, tapi masa orientasi tersebut tidak bertahan lama hanya 3 mingguan saja. Di kampusnya kak Ando sangat merasakan bahwa diskusi dikelas itu sangat menyenangkan karena mahasiswa semuanya bisa disebut jiwa ambis, jadi kalau ditanya itu langsung dijawab. Setelah masa orientasi itu selesai kak Ando harus mengalami kuliah online dirumah saja melalui Zoom, Email atau sosial media lainnya. Memang ada hal yang harus disesuaikan kembali, karena kampus dan mahasiswanya juga masing-masing menyesuaikan, dengan kebijakan pemerintah yaitu melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tetapi untuk diskusi jadi kurang efektif karena seperti di Zoom ada delay atau kendala lainnya, cara mengadaptasinya kak Ando mungkin jika ada waktu, digunakan untuk berkumpul dengan teman lainnya diluar jam kuliah meskipun memang beberapa bulan sebelumnya diterapkan lockdown yang dimana semua kegiatan dilarang untuk dilakukan di luar rumah sesuai dengan anjuran pemerintah, baru boleh keluar jika ada kegiatan yang mendesak dan tetap mentaati protokol kesehatan.
Yang paling menyenangkan di tempat yang kak Ando tinggali ini yaitu environment atau lingkungannya karena cuacanya disana enak dan juga disana sangat banyak ada taman, karena terkenal sebagai kota taman, jadi untuk jalan kaki ditaman saja sangat menyenangkan. Itu yang membedakan betapa enaknya tinggal di luar negeri, jadi tidak cuma terfokus untuk jalan-jalan ke mall itu monoton, tapi kalau disana sangat banyak taman yang bisa kita kunjungi yang dapat bermanfaat seperti belajar, piknik, diskusi, sharing dengan teman-teman dan masih banyak hal lainnya. Jadi kalau menurut saya pribadi fungsi taman bisa digunakan lebih dari fungsi awalnya yang hanya untuk bersantai ataupun berfoto-foto.
Karena University Of Melbourne menerapkan kuliah secara daring dikarenakan ada pandemi COVID-19, lockdown membuat mahasiswa itu merasa ketidakpastian yang harus dihadapi selama kuliah online. Tentunya berdampak sekali ke mahasiswa baik secara fisik dan mental, tetapi dibalik itu semua kampus tetap memberikan fasilitas yang maksimal yang diharapkan dapat mendukung mahasiswa agar tetap produktif, bertahan dan suvive di tengah pandemi kuliah secara daring ini. Selain itu, mahasiswa juga diberikan fasilitas seperti Akademik Sport, Akademik Skills, Mental Health dan lainnya, semua itu diberikan oleh pihak kampus secara online. Jadi jika mahasiswa membutuhkan fasilitas tersebut, mereka bisa meminta dengan cara melakukan Video Call, Email, dan aplikasi lainnya, kita bisa memberitahu atau menceritakan bagaimana keadaan selama pembelajaran secara online. Kampus sangat melayani itu, jadi intinya setiap yang diberikan oleh kampus seperti fasilitas, teknologi dan lainnya itu harus diadaptasi baik dari kampus atau mahasiswanya sendiri. Jadi kalau menurut saya, kenapa pihak kampus memberikan fasilitas semacam ini, karena agar mengurangi beban yang dirasakan oleh mahasiswanya dan dapat diberikan solusinya. Pihak kampus tetap memaksimalkan fasilitas agar mahasiswa tetap bersemangat dan tidak mudah menyerah atau mungkin merasa sendiri saat PJJ dilakukan, khususnya bagi kak Ando sangat terbantu dengan fasilitas yang diberikan oleh kampusnya.
Itu kurang lebih pengalaman kak Ando di Melbourne selama 8 bulan yang mungkin sedikit berbeda dirasakan seperti di awal masuk kuliah tapi semua itu tidak mengurangi sedikitpun rasa bahagia kak Ando dan rasa bangga karena bisa kuliah di luar negeri dan tentunya dapat membawa nama baik Indonesia di Australia, kak Ando juga berharap bisa berkontribusi kembali di Indonesia dan menjadi pribadi yang lebih baik, secara pribadi maupun pendidikan, bisa termotivasi lagi untuk membangun negeri dengan yang sudah didapatkan kak Ando di negara lain.
Kak Ando juga berpesan untuk kita khususnya yang melhat video di channel youtube Prof Dedi, yaitu “Untuk kita yang mempunyai cita-cita teruslah bermimpi jangan mudah menyerah, semua itu bisa digapai dengan adanya niat dan usaha. Teruslah bermimpi dan jangan lupa mewujudkannya”.
Sebelumnya saya ingin menyampaikan ketidaknyamanan karena saat saya menonton video ini ada gangguan yang berasal dari video tersebut seperti suara angin, burung, juga suara yang terlalu kecil saat narasumber menjelaskan, tetapi itu terbayar semua oleh cerita kak Ando yang memotivasi saya untuk tetap semangat menjalani kuliah walaupun secara PJJ atau daring ini. Disini saya merangkum pengalaman dari kak Ando selama PJJ di Universitas Of Melbourne.
Kesan pertama kak Ando ketika tinggal di Melbourne adalah merasa terkesan karena tinggal di negara maju, fasilitas yang didapatkan lebih baik daripada di Indonesia, sistem transportasi yang lebih lancar untuk diakses, cuaca yang beranekaragam yaitu ada 4 musim dibandingkan dengan di Indonesia yang hanya ada 2 musim. Tinggal disana selama 8 bulan dari bulan februari 2020 sampai sekarang bulan oktober, terasa sekali banyak hal yang dapat dipelajari salah satunya yaitu bagaimana cara kak Ando bisa beradaptasi, kak Ando tinggal cukup ditengah kota yaitu di CBD-nya Melbourne tidak jauh dari kampusnya, jadi masih hampir sama seperti di Jakarta namun di CBD lebih sepi. Tapi jika ada orang Asia kesana yaitu ketempat kak Ando pasti akan syok karena penggunaan bahasanya, tapi mau tidak mau harus beradaptasi karena ada kehidupan yang harus dijalani seperti kehidupan sehari-hari, kuliah dan banyak hal lainnya. Juga cuaca atau weather harus disesuaikan, harus sesering mungkin cek situasi bagaimana keadaan cuaca hari ini seperti mengecek di aplikasi agar tersesuaikan dalam kehidupan sehari-hari, jika kostum yang digunakan salah itu akan mempengaruhi aktivitas menjalankan kegiatan, begitu juga untuk makan banyak sekali yang harus diadaptasi.
Adaptasi yang dilakukan dikelas pertama kali yaitu ada orientasi kampus, bertemu dengan teman-teman yang se-Negara se-Fakultas dari Asia, Eropa bahkan Amerika, tapi masa orientasi tersebut tidak bertahan lama hanya 3 mingguan saja. Di kampusnya kak Ando sangat merasakan bahwa diskusi dikelas itu sangat menyenangkan karena mahasiswa semuanya bisa disebut jiwa ambis, jadi kalau ditanya itu langsung dijawab. Setelah masa orientasi itu selesai kak Ando harus mengalami kuliah online dirumah saja melalui Zoom, Email atau sosial media lainnya. Memang ada hal yang harus disesuaikan kembali, karena kampus dan mahasiswanya juga masing-masing menyesuaikan, dengan kebijakan pemerintah yaitu melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tetapi untuk diskusi jadi kurang efektif karena seperti di Zoom ada delay atau kendala lainnya, cara mengadaptasinya kak Ando mungkin jika ada waktu, digunakan untuk berkumpul dengan teman lainnya diluar jam kuliah meskipun memang beberapa bulan sebelumnya diterapkan lockdown yang dimana semua kegiatan dilarang untuk dilakukan di luar rumah sesuai dengan anjuran pemerintah, baru boleh keluar jika ada kegiatan yang mendesak dan tetap mentaati protokol kesehatan.
Yang paling menyenangkan di tempat yang kak Ando tinggali ini yaitu environment atau lingkungannya karena cuacanya disana enak dan juga disana sangat banyak ada taman, karena terkenal sebagai kota taman, jadi untuk jalan kaki ditaman saja sangat menyenangkan. Itu yang membedakan betapa enaknya tinggal di luar negeri, jadi tidak cuma terfokus untuk jalan-jalan ke mall itu monoton, tapi kalau disana sangat banyak taman yang bisa kita kunjungi yang dapat bermanfaat seperti belajar, piknik, diskusi, sharing dengan teman-teman dan masih banyak hal lainnya. Jadi kalau menurut saya pribadi fungsi taman bisa digunakan lebih dari fungsi awalnya yang hanya untuk bersantai ataupun berfoto-foto.
Karena University Of Melbourne menerapkan kuliah secara daring dikarenakan ada pandemi COVID-19, lockdown membuat mahasiswa itu merasa ketidakpastian yang harus dihadapi selama kuliah online. Tentunya berdampak sekali ke mahasiswa baik secara fisik dan mental, tetapi dibalik itu semua kampus tetap memberikan fasilitas yang maksimal yang diharapkan dapat mendukung mahasiswa agar tetap produktif, bertahan dan suvive di tengah pandemi kuliah secara daring ini. Selain itu, mahasiswa juga diberikan fasilitas seperti Akademik Sport, Akademik Skills, Mental Health dan lainnya, semua itu diberikan oleh pihak kampus secara online. Jadi jika mahasiswa membutuhkan fasilitas tersebut, mereka bisa meminta dengan cara melakukan Video Call, Email, dan aplikasi lainnya, kita bisa memberitahu atau menceritakan bagaimana keadaan selama pembelajaran secara online. Kampus sangat melayani itu, jadi intinya setiap yang diberikan oleh kampus seperti fasilitas, teknologi dan lainnya itu harus diadaptasi baik dari kampus atau mahasiswanya sendiri. Jadi kalau menurut saya, kenapa pihak kampus memberikan fasilitas semacam ini, karena agar mengurangi beban yang dirasakan oleh mahasiswanya dan dapat diberikan solusinya. Pihak kampus tetap memaksimalkan fasilitas agar mahasiswa tetap bersemangat dan tidak mudah menyerah atau mungkin merasa sendiri saat PJJ dilakukan, khususnya bagi kak Ando sangat terbantu dengan fasilitas yang diberikan oleh kampusnya.
Itu kurang lebih pengalaman kak Ando di Melbourne selama 8 bulan yang mungkin sedikit berbeda dirasakan seperti di awal masuk kuliah tapi semua itu tidak mengurangi sedikitpun rasa bahagia kak Ando dan rasa bangga karena bisa kuliah di luar negeri dan tentunya dapat membawa nama baik Indonesia di Australia, kak Ando juga berharap bisa berkontribusi kembali di Indonesia dan menjadi pribadi yang lebih baik, secara pribadi maupun pendidikan, bisa termotivasi lagi untuk membangun negeri dengan yang sudah didapatkan kak Ando di negara lain.
Kak Ando juga berpesan untuk kita khususnya yang melhat video di channel youtube Prof Dedi, yaitu “Untuk kita yang mempunyai cita-cita teruslah bermimpi jangan mudah menyerah, semua itu bisa digapai dengan adanya niat dan usaha. Teruslah bermimpi dan jangan lupa mewujudkannya”.
Comments
Post a Comment