Does Entrepreneurial University Support Entrepreneurship Education?

Jadi, analisis ini saya ambil setelah membaca artikel berjudul “Does Entrepreneurial University Support Entrepreneurship Education? (Asian Journal of Social Sciences and Management Studies Vol. 4, No. 2, 70-75, 2017)” yang diberikan oleh Bapak Dedi Purwana dalam blognya. Analisis ini saya buat untuk memenuhi tugas individu 9 yang diberikan, dan tidak lupa juga saya memahami apa tujuan diberikannya tugas ini yaitu mahasiswa dituntut untuk memahami bagaimana cara membaca, menganalisis dan membuat artikel di Jurnal Internasional.
Menurut saya, judul yang diambil sangat bermanfaat bagi semua kalangan khususnya saya mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa, banyak manfaat dan ilmu yang dapat saya ambil dari artikel ini. Diantaranya saya jadi bisa tahu betapa pentingnya pendidikan kewirausahaan khususnya di zaman sekarang yang sudah diselimuti oleh teknologi yaitu di Era Revolusi Industri 4.0, yang kalau saya lihat di kehidupan nyata ini sangat berkaitan sekali dengan teknologi untuk berbisnis, contohnya saya sering melihat para pedagang yang sekarang terdampak COVID-19 yang memutar strategi yang biasanya berjualan secara tatap muka di pasar dengan pelanggan, sekarang kebanyakan sudah lewat online menggunakan aplikasi yang mendukung seperti Grab Food, Go Food dan banyak lainnya. Seiring zaman berkembang kita juga harus mengembangkan apa yang kita punya sebelumnya, misalnya yang tadi kita hanya belajar pendidikan bisnis melalui tatap muka sekarang kita sudah melakukannya secara daring walaupun itu tuntutan dari pemerintah karena adanya COVID-19.


Untuk Daftar Pustaka/ Referensi yang diberikan sangat bagus dan berkualitas karena didalamnya sudah cukup jelas dan cukup mudah untuk dimengerti, walaupun untuk memahami artikel tersebut, saya harus membaca lebih dari 1 kali. Dari segi bahasa, memang saya lumayan kesulitan karena pada artikel tersebut berbahasa Inggris, namun itu tidak menghentikan saya untuk berhenti membacanya karena sekarang sudah banyak media atau aplikasi yang dapat membantu untuk menerjemahkan artikel tersebut. Saya juga yakin Prof Dedi benar-benar menganalisis mana yang harus dijadikan referensi didalam artikelnya, sehingga mudah dipahami oleh para pembaca khususnya mahasiswa seperti saya.


Beralih ke realita sekarang yang seperti kita lihat di berbagai Univeristas/Perguruan Tinggi khususnya di Indonesia yang sudah banyak sekali menjadikan salah satu mata kuliah Pendidikan Kewirausahaan pada Universitasnya, yang diharapkan mampu menjadikan mahasiswanya dapat mengembangkan pemahamannya saat di dunia luar mengenai wirausaha. Tetapi realitanya berbeda, masih banyak pengangguran yang menyebar di seluruh Indonesia yang bergelar sebagai sarjana. Lalu apa yang salah, apa pihak individunya bisa disalahkan atau justru mungkin dari pihak lain yaitu Universitas/ Perguruan Tinggi tempat dia menempuh pendidikan, ini yang harus dipertanyakan. Apalagi sekarang sudah banyak lulusan yang bergelar sebagai dasar pendidikan kewirausahaan, tetapi belum semuanya mendapatkan kelayakan seperti apa yang dipelajari.


Berdasarkan analisis saya, agar tidak ada lagi pertanyaan seperti ini, harusnya pihak Universitas lah yang bertanggung jawab lebih awal, dimana memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada Universitas. Maka dari itu, pihak Universitas harus mengantisipasi hal itu agar tidak terjadi, seperti yang saya fikirkan, harusnya Universitas lebih menitikberatkan mata kuliah Pendidikan Kewirausahaan ini pada praktek daripada teori. Karena jika hanya belajar dari materi saja tanpa praktek, itu percuma saja hanya menambah pengetahuan, tidak akan bisa membuat mahasiswa berkembang pemikirannya dikarenakan tidak ada praktek.


Juga menurut saya, peran Universitas selain memberi ilmu kepada mahasiswanya juga sebagai penunjang, yaitu membantu membiayai mahasiswanya, sebagai contoh saat mahasiswa melakukan praktek apalagi berkaitan dengan kegiatan berwirausaha dimana membutuhkan biaya yang cukup besar untuk dikeluarkan dalam melakukan praktek. Saya lihat di kampus saya sendiri yaitu Universitas Negeri Jakarta sudah banyak membantu mahasiswanya dalam melakukan berbagai kegiatan contohnya dalam bidang akademik maupun organisasi.


Dalam artikel ini dijelaskan ditangkap bahwa belajar kewirausahaan bertujuan untuk menciptakan cara berpikir kewirausahaan dan meningkatkan pemahaman mahasiswanya. Dalam jangka panjang, kewirausahaan adalah untuk memimpin agar siswa bisa menjadi pengusaha. Tetapi nyatanya, proses pendidikan kewirausahaan kita masih difokuskan pada teori dan teori. Tidak bisa dipungkiri teknologi membawa hal yang menguntungkan, selain menyediakan teknologi yang memungkinkan siswa memulai hal baru, itu juga menekankan aspek positif dari kewirausahaan.


Kesimpulan dan rekomendasi Pendidikan Kewirausahaan yang sukses bisa disimpulkan dari keberadaan kewirausahaan. Menurut penelitian, mata pelajaran kewirausahaan harus didesain sebaik mungkin yang dijelaskan lebih mendalam pada artikel. Hal penting lain yang perlu dipertimbangkan di luar kurikulum adalah ketersediaan infrastruktur. Khususnya di dalam inkubator dan laboratorium, jadi misalnya untuk mahasiswa bisa menyelesaikan misi di suatu lembaga, diperlukan dukungan yang kuat dari pihak Universitas. Pemimpin Perguruan Tinggi harus mengatur kegiatan yang baik dan benar untuk membangun kepercayaan perusahaan.

Comments

Popular posts from this blog

UJIAN TENGAH SEMESTER KEWIRAUSAHAAN

JANGAN nilai dari BUDAYA, Tapi ORANGNYA !

WIRAUSAHA MILENIAL KEREN - KAK RAIHAN