WEBINAR JADI JALAN PINTAS - FEATURE SAYA
Webinar Jadi Jalan Pintas
Amalia Putri Alamsyah, Pendidikan Administrasi Perkantoran 2020
"Ikut seminar yang lain di saat waktu bersamaan memakai dua device yang berbeda"
Pandemi membuat waktu luang menjadi peluang. Peluang untuk menambah ilmu tambahan, peluang mencari pengalaman sampai mengumpulkan sertifikat kebanggaan. Seminar dijadikan lewat dunia virtual bernama webinar. Webinar yang diikuti semakin mudah di masa pandemi ini, kegiatan banyak disambi dengan kegiatan lainnya. Saat waktu kuliah pun masih tetap bisa mengikuti acara webinar, PC atau laptop untuk kuliah dan gawai untuk ikut webinar. Dua tiga pulau terlampaui dalam satu waktu.
Kemudahan dalam mengikuti webinar selama pandemi juga dirasakan oleh Afifah mahasiswa Pendidikan Sejarah UNJ. Baginya mengikuti webinar selain mengisi waktu luang juga menjadi penambah wawasan yang tidak didapatkan di kuliah. Afifah sangat ingin mempersiapkan kemampuannya dalam mengajar kelak. Beberapa kali Afifah tidak mendapat sertifikat saat mengikuti webinar, dan itu bukan masalah baginya karena ilmu yang didapat lebih penting dibandingkan selembar pengakuan itu.
Ada banyak sudut positif yang dapat diambil dari webinar ini, jika seminar yang biasanya membayar tetapi dengan webinar ini banyak yang tidak diharuskan untuk membayar dan tetap mendapatkan fasilitas yang sama dengan seminar, seperti sertifikat. Sekarang ini banyak sekali orang yang memanfaatkan dan mengikuti webinar hanya untuk mendapatkan sertifikat.
Seperti yang dirasakan oleh Afifah karena merasa belum mempunyai ilmu yang cukup, menjadikan alasan tersebut untuk mengikuti webinar. Bukan hanya itu, karena mempunyai cita-cita sebagai pengajar membuat dia takut ketika ditanya oleh muridnya dia tidak bisa menjawab. perkuliahan dilakukan secara daring membuat Afifah merasa bosan #DiRumahAja dan untuk meretas rasa bosannya, dia memilih untuk mengikuti webinar agar bisa produktif.
Tugas yang tidak banyak dan masih bisa diatasinya membuat Herna menyempatkan mengikuti webinar ini menjadi salah satu kegiatan rutinnya. Kepribadian yang suka memotivasi diri dan kawannya menjadi pendorong besar mengikuti webinar. Belajar untuk hal yang belum dia tahu dan berbagi dengan temannya saya rasa itu adalah hobinya. Mungkin agar termotivasi lagi ia pun suka merekam kalimat pembicara yang menarik. “Kadang kalau kiranya bermutu gue rekam” ujar Herna.
Tentunya banyak perbedaan yang dirasakan oleh partisipan yang biasanya mengikuti seminar dengan tatap muka dan saat pandemi ini. Tapi justru banyak partisipan yang lebih memilih untuk melakukan seminar secara online. tidak mendapat konsumsi itu dirasa lebih baik daripada tidak mendapat ilmu walaupun sedikit oleh Afifah, jarak yang berdekatan antara satu dengan partisipan lainnya membuat ketidaknyamanan karena jadi susah untuk mencatat informasi dan tidak bisa dipungkiri akan ada teman yang mengganggu walaupun hanya bertanya saja. Itu semua tidak dirasakan jika secara daring, serius tapi santai “Bisa sambil makan, gak harus stay di tempat hehe” ujar Herna.
Untuk bisa mengikuti webinar dapat ditelusuri dari banyak sumber, baik melalui internet, aplikasi, brosur, grup dan banyak lagi lainnya yang tentunya dari sumber terpercaya. Sejarah menjadi kata kunci yang dicari untuk mengikuti webinar bagi Afifah, karena dilatar belakangi dengan jurusan yang diambil yaitu pendidikan sejarah menjadikan sebagian besar webinar yang diikutinya bertema sejarah, Info ini dia dapatkan kebanyakan dari instagram dan twitter. Berbeda dengan herna yang tidak memfokuskan webinar apa yang mau diikutinya, biasanya dia lebih mendapatkan info dari grup WA.
Salah satu doorprize yang diberi saat seminar adalah sertifikat, sementara Afifah dan Herna merasa masih bingung untuk apa sertifikat ini nanti, tetapi masih dengan keyakinan yang kuat pasti akan ada gunanya. “Dikumpulin aja siapa tau bakalan berguna buat nantinya” ujar Afifah dan Herna.
Tidak semua orang mengikuti webinar dari awal sampai akhir ada saja yang hanya sampai pertengahan atau cuma sekedar ikut tapi tidak menyimak, itu pun dirasakan oleh Afifah dan Herna yang merasa jenuh jika berlama-lama hanya mendengarkan saja. Lelah yang berujung tidur pun sering dirasa oleh Afifah sampai tidak menyadari ada kegiatan yang harus dilakukannya, jika hal ini terjadi membuat Afifah mengikuti webinar dari pertengahan karena ketinggalan di awal. Signal yang menjadi penentu keberlanjutan mengikuti webinar sangat berpengaruh kepada herna, sekedar mendengar dan hanya mengambil kesimpulan sering dilakukan oleh dirinya.
Tanda tangan dosen sendiri juga berpengaruh sekali untuk Afifah mengikuti webinar ini dan tidak lupa ia mengajak temannya untuk ikut bergabung, siapa yang tak tergiur jika sudah diimingi dengan dosen yang mengajar. Janji berupa perkataan seringkali membuat manusia tergiur dan nyatanya itu terbukti dengan yang dirasakan Afifah. Seringkali tidak mendapat hal yang dijanjikan seperti sertifikat membuat Afifah dan herna tidak begitu mempedulikannya lagi, jika itu semua sudah bisa tergantikan dengan pembicara yang dapat memotivasi mereka.
Tidak seperti dulu pengiriman harus dilakukan face to face, sekarang sudah banyak aplikasi pendukung yang dapat memberi atau menerima pesan berupa file dan gambar. Tentu jangka waktu yang diharapkan partisipan adalah secepat-cepatnya. Tidak ada alasan untuk berlama-lama tidak mengirim sertifikat, karena media yang canggih. Afifah Pernah sampai berbulan-bulan tidak menerima sertifikat, terlintas di pikirannya apakah desain sertifikat belum terselesaikan, tetapi ia masih positive thinking “mungkin saya yang salah masukin email” ujar Afifah. Berbeda dengan herna Pernah tetapi hanya beberapa kali, selebihnya dikirim dengan cepat.
Setiap acara pastinya mempunyai kejadian lucu yang terkadang tidak diharapkan atau bisa menjadi suatu hiburan sejenak, namun kelucuan tersebut bisa mengganggu orang lain padahal yang kita rasakan berbeda justru lucu. Sifat yang serius menjadikan tidak semua lelucon dapat menjadi hal yang lucu, kesal dan lucu menjadi satu ketika dihadapkan dengan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Ada Satu saja yang bertanya mengenai link kehadiran sudah pasti dibuntuti dengan pertanyaan yang sama, entah untuk membuat suasana gaduh atau hanya sekedar lucu-lucuan. “Lebih ke annoying karena berkali-kali nanyanya padahal orang yang lain udah nanya juga haha” ujar Afifah.
Semua bisa mendapatkan doorprize termasuk sertifikat, tidak ada yang dibeda-bedakan dengan yang aktif maupun tidak. Tetapi ada webinar yang mensyaratkan partisipannya untuk mengisi lnk hadir agar bisa mendapat sertifikat. Dalam link tersebut hal yang wajib diisi biasanya adalah email, nama, asal instansi dan penilaian dari webinar yang diikuti. Bahkan banyak juga sertifikat tanpa nama yang diberi ke partisipan, padahal kalau dipikir untuk apa mencantumkan nama di link kehadiran. “sertifikat tanpa nama ya isi aja sendiri namanya hehe” ujar Herna.
***
Untuk menjadi narasumber memang diperlukan kemampuan berbicara yang baik, tetapi tidak perlu khawatir dengan adanya motivasi salah satunya sertifikat bisa menghantarkan kita menjadi pembicara bukan lagi sebagai partisipan. Menjadi orang yang bergerak dalam memotivasi orang lain merupakan suatu kebanggaan bagi diri sendiri terutama dalam hal kebaikan, meningkatkan kepercayaan orang lain terkait bagaimana kita membangun personal branding yang melekat dengan diri kita “Bagaimana kita meyakinkan mereka dengan posisi aku yang sekarang yaitu sebagai mawapres” ujar afidah. Mempunyai banyak relasi baik pihak dari panitia penyelenggara maupun audiens semakin mengerti indahnya perbedaan.
Untuk seefektif mana seminar offline atau online, afidah merasakan lebih baik offline. Karena ketika seminar diadakan secara online akan ada banyak ketidak efektifan, karena sebagai pembicara ia tidak bisa lebih leluasa berinteraksi dengan audiens, keadaan terbatas seakan hanya berbicara dengan benda mati saja seperti laptop, kedekatan yang dibangun antara narasumber dengan audiens kurang erat sehingga penyampaian materi saat diterima oleh audiens kurang pas, entah ada kendala gangguan koneksi atau apa. “Kalau online itu kan biasanya berupa PPT atau video jadi tingkat efektifitas penyampaiannya lebih rendah daripada offline” ujar Afidah.
Sering terjadi dalam seminar, tidak semua partisipan aktif mengikuti acara tersebut dan Afidah pun menanggapinya secara wajar saja, karena dia juga tidak bisa memaksakan untuk on camera atau minta feedback dari partisipan. “Ketika kita mengikuti seminar bisa aja kita mengerjakan yang lain misal sambil makan, sambil beberes, atau bahkan mengikuti seminar yang lain di saat waktu bersamaan memakai dua device yang berbeda”. ujar Afidah
Yang namanya seminar apalagi dilakukan secara online pastinya ada saja hal yang mengganggu baik dari diri sendiri bahkan gangguan dari luar. Menanggapi hal ini, untuk pertama kalinya afidah merasakan risih tidak nyaman tetapi karena sudah terbiasa menjadi narasumber, Afidah pun mulai mewajarinya. “Mungkin mereka juga kan dituntut sama kewajiban dari kuliah atau mereka memang hanya mengincar sertifikatnya aja, setidaknya itu bisa jadi alasan untuk belajar bareng aku” ujar Afidah sambil tertawa.
Kebermanfaatan sertifikat sendiri sangat dirasakan oleh orang yang sering menjadi pembicara di suatu kegiatan atau seminar. banyak manfaat yang didapat. Sertifikat narasumber itu dapat dipakai dalam banyak hal, terutama dapat dicantumkan pada portofolio di Curriculum Vitae (CV) atau daftar riwayat hidup, dan menjadi bukti hitam di atas putih bahwa kita pernah menjadi narasumber di acara itu, tentunya membuat kita termotivasi lagi untuk memperbanyak sertifikat.
Seluruh kegiatan dibatasi untuk tidak keluar rumah, begitu juga dengan kegiatan seminar yang biasanya dilakukan di suatu tempat secara berkumpul, sekarang menjadi diselenggarakan secara webinar yang dimana semua kalangan dimanapun dan kapanpun bisa mengakses webinar tersebut.
Amalia Putri Alamsyah, Pendidikan Administrasi Perkantoran 2020
"Ikut seminar yang lain di saat waktu bersamaan memakai dua device yang berbeda"
Pandemi membuat waktu luang menjadi peluang. Peluang untuk menambah ilmu tambahan, peluang mencari pengalaman sampai mengumpulkan sertifikat kebanggaan. Seminar dijadikan lewat dunia virtual bernama webinar. Webinar yang diikuti semakin mudah di masa pandemi ini, kegiatan banyak disambi dengan kegiatan lainnya. Saat waktu kuliah pun masih tetap bisa mengikuti acara webinar, PC atau laptop untuk kuliah dan gawai untuk ikut webinar. Dua tiga pulau terlampaui dalam satu waktu.
Kemudahan dalam mengikuti webinar selama pandemi juga dirasakan oleh Afifah mahasiswa Pendidikan Sejarah UNJ. Baginya mengikuti webinar selain mengisi waktu luang juga menjadi penambah wawasan yang tidak didapatkan di kuliah. Afifah sangat ingin mempersiapkan kemampuannya dalam mengajar kelak. Beberapa kali Afifah tidak mendapat sertifikat saat mengikuti webinar, dan itu bukan masalah baginya karena ilmu yang didapat lebih penting dibandingkan selembar pengakuan itu.
Ada banyak sudut positif yang dapat diambil dari webinar ini, jika seminar yang biasanya membayar tetapi dengan webinar ini banyak yang tidak diharuskan untuk membayar dan tetap mendapatkan fasilitas yang sama dengan seminar, seperti sertifikat. Sekarang ini banyak sekali orang yang memanfaatkan dan mengikuti webinar hanya untuk mendapatkan sertifikat.
Seperti yang dirasakan oleh Afifah karena merasa belum mempunyai ilmu yang cukup, menjadikan alasan tersebut untuk mengikuti webinar. Bukan hanya itu, karena mempunyai cita-cita sebagai pengajar membuat dia takut ketika ditanya oleh muridnya dia tidak bisa menjawab. perkuliahan dilakukan secara daring membuat Afifah merasa bosan #DiRumahAja dan untuk meretas rasa bosannya, dia memilih untuk mengikuti webinar agar bisa produktif.
Tugas yang tidak banyak dan masih bisa diatasinya membuat Herna menyempatkan mengikuti webinar ini menjadi salah satu kegiatan rutinnya. Kepribadian yang suka memotivasi diri dan kawannya menjadi pendorong besar mengikuti webinar. Belajar untuk hal yang belum dia tahu dan berbagi dengan temannya saya rasa itu adalah hobinya. Mungkin agar termotivasi lagi ia pun suka merekam kalimat pembicara yang menarik. “Kadang kalau kiranya bermutu gue rekam” ujar Herna.
Tentunya banyak perbedaan yang dirasakan oleh partisipan yang biasanya mengikuti seminar dengan tatap muka dan saat pandemi ini. Tapi justru banyak partisipan yang lebih memilih untuk melakukan seminar secara online. tidak mendapat konsumsi itu dirasa lebih baik daripada tidak mendapat ilmu walaupun sedikit oleh Afifah, jarak yang berdekatan antara satu dengan partisipan lainnya membuat ketidaknyamanan karena jadi susah untuk mencatat informasi dan tidak bisa dipungkiri akan ada teman yang mengganggu walaupun hanya bertanya saja. Itu semua tidak dirasakan jika secara daring, serius tapi santai “Bisa sambil makan, gak harus stay di tempat hehe” ujar Herna.
Untuk bisa mengikuti webinar dapat ditelusuri dari banyak sumber, baik melalui internet, aplikasi, brosur, grup dan banyak lagi lainnya yang tentunya dari sumber terpercaya. Sejarah menjadi kata kunci yang dicari untuk mengikuti webinar bagi Afifah, karena dilatar belakangi dengan jurusan yang diambil yaitu pendidikan sejarah menjadikan sebagian besar webinar yang diikutinya bertema sejarah, Info ini dia dapatkan kebanyakan dari instagram dan twitter. Berbeda dengan herna yang tidak memfokuskan webinar apa yang mau diikutinya, biasanya dia lebih mendapatkan info dari grup WA.
Salah satu doorprize yang diberi saat seminar adalah sertifikat, sementara Afifah dan Herna merasa masih bingung untuk apa sertifikat ini nanti, tetapi masih dengan keyakinan yang kuat pasti akan ada gunanya. “Dikumpulin aja siapa tau bakalan berguna buat nantinya” ujar Afifah dan Herna.
Tidak semua orang mengikuti webinar dari awal sampai akhir ada saja yang hanya sampai pertengahan atau cuma sekedar ikut tapi tidak menyimak, itu pun dirasakan oleh Afifah dan Herna yang merasa jenuh jika berlama-lama hanya mendengarkan saja. Lelah yang berujung tidur pun sering dirasa oleh Afifah sampai tidak menyadari ada kegiatan yang harus dilakukannya, jika hal ini terjadi membuat Afifah mengikuti webinar dari pertengahan karena ketinggalan di awal. Signal yang menjadi penentu keberlanjutan mengikuti webinar sangat berpengaruh kepada herna, sekedar mendengar dan hanya mengambil kesimpulan sering dilakukan oleh dirinya.
Tanda tangan dosen sendiri juga berpengaruh sekali untuk Afifah mengikuti webinar ini dan tidak lupa ia mengajak temannya untuk ikut bergabung, siapa yang tak tergiur jika sudah diimingi dengan dosen yang mengajar. Janji berupa perkataan seringkali membuat manusia tergiur dan nyatanya itu terbukti dengan yang dirasakan Afifah. Seringkali tidak mendapat hal yang dijanjikan seperti sertifikat membuat Afifah dan herna tidak begitu mempedulikannya lagi, jika itu semua sudah bisa tergantikan dengan pembicara yang dapat memotivasi mereka.
Tidak seperti dulu pengiriman harus dilakukan face to face, sekarang sudah banyak aplikasi pendukung yang dapat memberi atau menerima pesan berupa file dan gambar. Tentu jangka waktu yang diharapkan partisipan adalah secepat-cepatnya. Tidak ada alasan untuk berlama-lama tidak mengirim sertifikat, karena media yang canggih. Afifah Pernah sampai berbulan-bulan tidak menerima sertifikat, terlintas di pikirannya apakah desain sertifikat belum terselesaikan, tetapi ia masih positive thinking “mungkin saya yang salah masukin email” ujar Afifah. Berbeda dengan herna Pernah tetapi hanya beberapa kali, selebihnya dikirim dengan cepat.
Setiap acara pastinya mempunyai kejadian lucu yang terkadang tidak diharapkan atau bisa menjadi suatu hiburan sejenak, namun kelucuan tersebut bisa mengganggu orang lain padahal yang kita rasakan berbeda justru lucu. Sifat yang serius menjadikan tidak semua lelucon dapat menjadi hal yang lucu, kesal dan lucu menjadi satu ketika dihadapkan dengan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Ada Satu saja yang bertanya mengenai link kehadiran sudah pasti dibuntuti dengan pertanyaan yang sama, entah untuk membuat suasana gaduh atau hanya sekedar lucu-lucuan. “Lebih ke annoying karena berkali-kali nanyanya padahal orang yang lain udah nanya juga haha” ujar Afifah.
Semua bisa mendapatkan doorprize termasuk sertifikat, tidak ada yang dibeda-bedakan dengan yang aktif maupun tidak. Tetapi ada webinar yang mensyaratkan partisipannya untuk mengisi lnk hadir agar bisa mendapat sertifikat. Dalam link tersebut hal yang wajib diisi biasanya adalah email, nama, asal instansi dan penilaian dari webinar yang diikuti. Bahkan banyak juga sertifikat tanpa nama yang diberi ke partisipan, padahal kalau dipikir untuk apa mencantumkan nama di link kehadiran. “sertifikat tanpa nama ya isi aja sendiri namanya hehe” ujar Herna.
***
Untuk menjadi narasumber memang diperlukan kemampuan berbicara yang baik, tetapi tidak perlu khawatir dengan adanya motivasi salah satunya sertifikat bisa menghantarkan kita menjadi pembicara bukan lagi sebagai partisipan. Menjadi orang yang bergerak dalam memotivasi orang lain merupakan suatu kebanggaan bagi diri sendiri terutama dalam hal kebaikan, meningkatkan kepercayaan orang lain terkait bagaimana kita membangun personal branding yang melekat dengan diri kita “Bagaimana kita meyakinkan mereka dengan posisi aku yang sekarang yaitu sebagai mawapres” ujar afidah. Mempunyai banyak relasi baik pihak dari panitia penyelenggara maupun audiens semakin mengerti indahnya perbedaan.
Untuk seefektif mana seminar offline atau online, afidah merasakan lebih baik offline. Karena ketika seminar diadakan secara online akan ada banyak ketidak efektifan, karena sebagai pembicara ia tidak bisa lebih leluasa berinteraksi dengan audiens, keadaan terbatas seakan hanya berbicara dengan benda mati saja seperti laptop, kedekatan yang dibangun antara narasumber dengan audiens kurang erat sehingga penyampaian materi saat diterima oleh audiens kurang pas, entah ada kendala gangguan koneksi atau apa. “Kalau online itu kan biasanya berupa PPT atau video jadi tingkat efektifitas penyampaiannya lebih rendah daripada offline” ujar Afidah.
Sering terjadi dalam seminar, tidak semua partisipan aktif mengikuti acara tersebut dan Afidah pun menanggapinya secara wajar saja, karena dia juga tidak bisa memaksakan untuk on camera atau minta feedback dari partisipan. “Ketika kita mengikuti seminar bisa aja kita mengerjakan yang lain misal sambil makan, sambil beberes, atau bahkan mengikuti seminar yang lain di saat waktu bersamaan memakai dua device yang berbeda”. ujar Afidah
Yang namanya seminar apalagi dilakukan secara online pastinya ada saja hal yang mengganggu baik dari diri sendiri bahkan gangguan dari luar. Menanggapi hal ini, untuk pertama kalinya afidah merasakan risih tidak nyaman tetapi karena sudah terbiasa menjadi narasumber, Afidah pun mulai mewajarinya. “Mungkin mereka juga kan dituntut sama kewajiban dari kuliah atau mereka memang hanya mengincar sertifikatnya aja, setidaknya itu bisa jadi alasan untuk belajar bareng aku” ujar Afidah sambil tertawa.
Kebermanfaatan sertifikat sendiri sangat dirasakan oleh orang yang sering menjadi pembicara di suatu kegiatan atau seminar. banyak manfaat yang didapat. Sertifikat narasumber itu dapat dipakai dalam banyak hal, terutama dapat dicantumkan pada portofolio di Curriculum Vitae (CV) atau daftar riwayat hidup, dan menjadi bukti hitam di atas putih bahwa kita pernah menjadi narasumber di acara itu, tentunya membuat kita termotivasi lagi untuk memperbanyak sertifikat.
Seluruh kegiatan dibatasi untuk tidak keluar rumah, begitu juga dengan kegiatan seminar yang biasanya dilakukan di suatu tempat secara berkumpul, sekarang menjadi diselenggarakan secara webinar yang dimana semua kalangan dimanapun dan kapanpun bisa mengakses webinar tersebut.
Comments
Post a Comment